Sejarah Masjid Ubudiyah Tepi Air

Dari surau kecil di pinggir batang aia menjadi pusat suluk Kota Padang


Masjid Ubudiyah didirikan tahun 1978 oleh Ninik Mamak dan perantau Indarung yang bekerja di PT Semen Padang. Nama "Ubudiyah" diambil dari kata 'ubudiyah' — penghambaan total kepada Allah. Letaknya di tepi aliran Batang Kuranji, maka masyarakat menyebutnya "Tepi Air".

Awalnya hanya surau kayu beratap seng dengan lantai papan. Setiap Ramadhan, Buya H. Syamsuddin — murid Khalifah Naqsyabandiyah dari Surau Gadang — mengajak jamaah untuk basuluak. Tradisi inilah yang membedakan Ubudiyah dari masjid lain di Lubuk Kilangan.

Tonggak Sejarah

1978

Peletakan batu pertama surau Ubudiyah oleh Datuk Rajo Indo

1983

Renovasi pertama, atap gonjong dibangun dengan iuran karyawan Semen Padang

1987

Suluk 40 hari pertama diikuti 27 jamaah (21 perempuan lansia)

2001

Pembangunan mihrab dan tempat wudhu tepi air permanen

2015

Ditetapkan sebagai pusat pembinaan Tarekat Naqsyabandiyah Indarung

2023

Renovasi kubah dan digitalisasi dokumentasi suluk

Masjid Ranah Minang

Hingga kini, Masjid Ubudiyah tetap mempertahankan ciri khasnya: tidak ada pengeras suara berlebihan saat zikir, menjaga adab suluk, dan membuka pintu 24 jam selama Ramadhan bagi para pesuluk yang ingin beri'tikaf.